Silabus Mata Kuliah Al-Qur’an dan Isu-isu Aktual

QOWIM.NET – Al-Qur’an sebagai kitab suci umat muslim mempunyai posisi paling utama, di samping sebagai sumber primer hukum Islam, al-Qur’an juga sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia. Petunjuk dalam hal ini bersifat umum, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Meskipun pada dasarnya tidak ada pemisahan pemahaman antara dunia dan akhirat, alih-alih dikhotomik, keduanya mempunyai keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan.

Namun, di antara tema keduniaan dan keakhiratan, dalam konteks perkuliahan ini, kita akan membahas hal-hal yang bersifat ”duniawi” sebab kita sedang hidup di dunia bukan di akhirat. Hal ini tidak kemudian menutup kemungkinan menutup diskusi keakhiratan. Melainkan untuk memudahkan pembahasan saja, bahwa isu-isu aktual adalah hal yang lebih banyak bersinggungan dengan keduniawian daripada keakhiratan.

Tentu hal ini masih bisa diperdebatkan.

Mengenai mata kuliah ”Al-Qur’an dan Isu-isu Aktual” mempunyai kesan bahwa al-Qur’an bersifat defensif, yaitu mempertahankan nilai-nilainya untuk melawan keberingasan isu-isu aktual masa kini. Sehingga al-Qur’an dinilai sebagai sesuatu yang harus dipegang teguh sebagai perisai.

Apakah betul demikian?

Hemat saya, tidak. Al-Qur’an harus diposisikan sebagai karakter, nilai dasar dari semua aspek kehidupan. Dalam rangka memasuki ranah bahwa Alquran diposisikan sebagai karakter, kita akan membahas lebih jauh tentang karakteristik Alquran dan penafsirannya hingga kita dapat memahami bahwa yang keberlangsungan ragam penafsiran terhadap al-Quran adalah keniscayaan. 

1. Al-Quran dan Pemahamannya

Al-Qur’an dikenal dengan slogan shalihun likulli zaman wa makan (selalu relevan di setiap zaman dan tempat), lalu sejauh mana al-Qur’an bisa menjawab persoalan-persoalan kehidupan manusia? Padahal al-Quran bersifat terbatas secara teks dan jumlah kuantitasnya, sedangkan realitas manusia selalu berubah dan berkembang sesuai dengan zaman dan tempatnya. 

Dari kenyataan seperti demikian, pemahaman al-Qur’an dalam konteks ini adalah tafsir, meniscayakan pembaharuan dan penyesuaian untuk menjawab problematika sosial bagi manusia. Jadi, antara al-Qur’an dan pemahaman tentang al-Qur’an (baca; tafsir) harus dibedakan secara jelas. Hal ini untuk mengantisipasi mengkultuskan penafsiran-penafsiran tertentu. Sebab jika hal tersebut terjadi, maka seolah-olah menyejajarkan penfsiran dengan al-Quran sebagai kebenaran yang pasti (absolut). 

Jadi, sebagus dan sebenar apapun konteks penafsiran al-Quran sebaiknya diletakkan pada pemahaman tentang al-Quran, bukan al-Qur’an itu sendiri. 

2. Pendekatan-pendekatan dalam Al-Qur’an

3. Al-Quran dan Hak Asasi Manusia

4. Al-Quran dan Sains

5. Al-Qur’an dan Lingkungan

6. Isu Perempuan dalam al-Qur’an

7. Gender dan Seksualitas dalam al-Qur’an

8. Poligami dalam al-Qur’an

9. Al-Qur’an dan Sistem Politik Islam

10. Al-Quran dan Kesejahteraan Sosial

Tema-tema di atas akan kita elaborasi bersama, semata-mata untuk mengetahui bagaimana perkembangan penafsiran berlangsung untuk merespon isu-isu aktual manusia secara umum sehingga al-Quran benar-benar dapat menjadi nilai dasar berpikir dan bertingkah laku.