Menjebak Syetan
Syahdan, seorang saudagar kaya raya di era Abu
Hanifah tengah menyembunyikan harta emas batangan di dalam tanah. Wajar
sebab di zaman itu belum ada Bank, apalagi bank syar’iah, mengingat
sekarang lagi tren yg syar’i syar’i, sampai mamang ojek saja ada ojek
syar’i. Biar terkesan relijiyes.
Setelah mengubur harta
berharganya itu, selang beberapa bulan ia lupa di mana ia pernah
mengubur hartanya tersebut. Ia sempat ke menggali di mana mana tapi
hasilnya nihil.
“Mbah. Saya nyimpan harta di galian tapi lupa di mana tempat itu” Tanya saudagar tersebut.
“Ini bukan persoalan fiqh, kang.” jawab Abu Hanifah
“Lalu bagaimana caranya biar saya ingat di mana harta saya itu?” Tanyanya lagi.
“Saya tahu caranya agar kamu ingat, nanti malam kamu sholat 10 raka’at.” Jawab abu hanifah.
Malam harinya ia bangun dan shalat, dua rakaat selesai ia ingat di mana
ia pernah mengubur emasnya itu. Ia berhenti dan segera menggalinya. Keesokan harinya ia sowan ke Abu Hanifah.
“Mbah, belum sepuluh rakaat saya sudah ingat di mana emas-emas itu.”
“Oh, setan berhasil masuk jebakan. Saya tahu jika setan itu suka
menggoda manusia ketika shalat dengan cara mengingat-ingatkan harta yang
dimiliki oleh orang yg sedang sholat. Nah termasuk emas yg kamu
sembunyikan itu.”
“Nek aku dadi setane, wegah ngenei ngerti.” Kata Gus Baha.
Kesimpulan. Jika lupa sama dompet di mana, kunci-kunci, dan barangkali istri, maka shalatlah. Hahahaha…
Diolah dari Ngaji Gus Baha 25 Sept 2016


